jurnaltime.co.id SOPPENG – Kondisi Danau Tempe di wilayah Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, kian memprihatinkan. Populasi ikan air tawar seperti ikan nila, gabus, emas, dan sepat dilaporkan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, banyak nelayan yang menggantungkan hidup dari danau tersebut terpaksa beralih profesi.
Salah seorang nelayan setempat, Manang Lasse, yang ditemui pada Selasa (14/1/2026), mengungkapkan bahwa sekitar tujuh tahun lalu Danau Tempe masih menjadi tumpuan utama mata pencaharian masyarakat nelayan. Namun kondisi itu kini tinggal kenangan.
“Beberapa tahun terakhir saya sudah jarang turun ke danau mencari ikan, karena hasil tangkapan sudah sangat berkurang,” ujar Manang.
Menurutnya, jenis ikan bernilai ekonomis seperti nila, gabus, bungo, emas, dan sepat semakin sulit ditemukan. Sebaliknya, ikan sapu-sapu justru mendominasi perairan Danau Tempe dan dinilai merugikan nelayan.
“Sekarang lebih banyak ikan sapu-sapu daripada ikan yang bisa dijual. Itu yang membuat kami nelayan susah,” jelasnya.
Penurunan hasil tangkapan ini berdampak langsung pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan. Tidak sedikit warga yang memilih merantau ke daerah lain, sementara sebagian lainnya beralih menjadi petani sawah atau mencari pekerjaan alternatif demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Hal serupa disampaikan Lamdi, mantan nelayan Danau Tempe yang kini menekuni sektor pertanian. Ia mengaku sudah beberapa tahun meninggalkan aktivitas melaut di danau.
“Saya sudah lama tidak turun danau. Sekarang fokus bertani. Perahu saya bahkan sudah saya simpan di bawah kolong rumah,” tuturnya.
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam, mengingat Danau Tempe selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu sumber penghidupan utama masyarakat pesisir danau di Kabupaten Soppeng.(luk)
0 Komentar