jurnaltime.co.id SOPPENG – Kondisi Danau Tempe di wilayah Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, semakin memprihatinkan. Populasi ikan air tawar yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat terus mengalami penurunan drastis. Akibatnya, banyak nelayan terpaksa meninggalkan profesinya dan mencari mata pencaharian lain demi bertahan hidup.
Jenis ikan bernilai ekonomis seperti nila, gabus, emas, bungo, hingga sepat kini semakin sulit ditemukan di perairan Danau Tempe. Sebaliknya, ikan sapu-sapu justru mendominasi dan dianggap menjadi salah satu ancaman serius bagi keberlangsungan ekonomi nelayan.
Salah seorang nelayan asal Kelurahan Kaca, Kecamatan Marioriawa, Manang Lasse (72), mengaku kondisi Danau Tempe saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Ia mengenang masa ketika danau tersebut masih menjadi sumber utama penghasilan masyarakat pesisir.
“Dulu hampir setiap hari kami turun mencari ikan dan hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga. Tapi sekarang ikan sudah sangat berkurang,” ujar Manang saat ditemui, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir hasil tangkapan nelayan terus menurun. Situasi itu membuat dirinya semakin jarang melaut karena biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
“Sekarang lebih banyak ikan sapu-sapu daripada ikan yang bisa dijual. Itu yang membuat kami nelayan susah,” katanya.
Fenomena menurunnya hasil tangkapan ikan tidak hanya berdampak pada pendapatan masyarakat, tetapi juga memicu perubahan sosial di kawasan sekitar danau. Banyak warga memilih merantau ke daerah lain untuk mencari pekerjaan, sementara sebagian lainnya beralih menjadi petani atau pekerja serabutan.
Hal serupa diungkapkan Lamdi (47), mantan nelayan Danau Tempe yang kini fokus bekerja di sektor pertanian. Ia mengaku sudah lama meninggalkan aktivitas mencari ikan di danau karena hasil tangkapan yang terus menurun.
“Saya sudah lama tidak turun danau. Sekarang fokus bertani. Perahu saya bahkan sudah saya simpan di bawah kolong rumah,” tuturnya.
Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam bagi masyarakat. Pasalnya, Danau Tempe selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu sumber penghidupan utama masyarakat di Kabupaten Soppeng, termasuk wilayah Kabupaten Wajo dan Sidrap yang juga berbatasan dengan kawasan danau.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Soppeng, Erman Hasnawi, M.Si., mengakui keberadaan ikan sapu-sapu menjadi persoalan yang turut dikeluhkan masyarakat di kawasan Danau Tempe.
Menurutnya, pemerintah telah menyediakan fasilitas pengolahan ikan sapu-sapu di UPTD Perikanan Salomate, Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa.
“Ikan sapu-sapu sudah ada pabriknya di UPTD Perikanan Salomate dengan kapasitas sekitar 500 kilogram,” jelas Erman.
Ia mengatakan ikan sapu-sapu tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat dengan cara dihancurkan untuk dijadikan pakan ternak seperti itik dan ayam.
Namun demikian, Erman mengakui hingga saat ini belum ada penganggaran dari pemerintah untuk membeli ikan sapu-sapu hasil tangkapan masyarakat.
“Bukan hanya Kabupaten Soppeng yang mengeluh, tetapi juga Kabupaten Wajo dan Sidrap yang memiliki wilayah Danau Tempe,” tambahnya.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah serius untuk memulihkan ekosistem Danau Tempe agar kembali produktif dan mampu menjadi sumber penghidupan bagi nelayan seperti dahulu.(luk)
0 Komentar