Karhutla Soppeng Capai 399,97 Hektare, Lalabata Jadi Wilayah Terparah

jurnaltime.co.id SOPPENG- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, hingga Senin (5/10/2026) tercatat mencapai sekitar 399,97 hektare. Kecamatan Lalabata menjadi wilayah dengan luasan kebakaran paling besar dibandingkan wilayah lainnya.

Data tersebut disampaikan Kepala Seksi Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat UPTD KPH Welanae Kabupaten Soppeng, Mulawarman.

Menurut Mulawarman, titik api pertama mulai terdeteksi pada 19 Agustus 2026 di kawasan Bulu Lamanipi, Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata. Lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung.

"Mulai tanggal 19 Agustus 2026 api pertama muncul di Bulu Lamanipi, Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata," ungkap Mulawarman.

Berdasarkan data UPTD KPH Welanae, tercatat sedikitnya 21 titik api yang tersebar sejak 19 Agustus hingga 1 Oktober 2026.

Salah satu titik dengan luasan relatif kecil berada di kawasan Nene Urang, Kelurahan Bila, Kecamatan Lalabata, pada koordinat 4,362768 dan 119,8746306. Kebakaran di lokasi tersebut diperkirakan menghanguskan sekitar 2 hektare lahan Areal Penggunaan Lain (APL).

Sementara itu, kebakaran dengan luasan terbesar terjadi di kawasan Bulu Benati, Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare.

Mulawarman mengatakan, penanganan kebakaran hutan tidak selalu mudah dilakukan. Kondisi medan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi salah satu kendala utama petugas ketika berupaya memadamkan api.

Penggunaan jet skuter untuk membawa peralatan pemadaman juga menghadapi kendala di lapangan. Alat tersebut sulit dibawa menuju lokasi kebakaran karena medan yang berat, bahkan pada sejumlah titik petugas harus berjalan kaki sambil membawa perlengkapan.

"Jet skuter susah dibawa dan berat untuk dijinjing ke tempat kebakaran di hutan, apalagi kalau medannya terjal. Jadi kita menggunakan ranting kayu untuk membantu mematikan api," jelasnya.

Dalam penanganan Karhutla tersebut, unsur TNI melalui Babinsa, Polri melalui Bhabinkamtibmas serta masyarakat setempat turut terlibat membantu petugas di lapangan.

Kerja sama tersebut dilakukan untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api meluas ke kawasan hutan maupun lahan masyarakat.

Terkait penyebab kebakaran, Mulawarman mengungkapkan adanya dugaan api sengaja dinyalakan di sejumlah lokasi. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk memastikan dugaan tersebut sebagai dasar laporan.

"Ada kesengajaan, tapi tidak ada bukti untuk dilaporkan," katanya.

Dengan luasan Karhutla yang telah mendekati 400 hektare, UPTD KPH Welanae terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik rawan kebakaran, khususnya di wilayah Kecamatan Lalabata yang tercatat sebagai daerah dengan luasan kebakaran paling besar.

Kondisi cuaca kering dan medan hutan yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mencegah munculnya titik api baru di Kabupaten Soppeng.(myu) 

0 Komentar